05/11/2012

Cerita Fabel Anak - Asal Mula Binatang Keledai

15:58:00






Ilustrasi cerita fabel anak
Dunia anak-anak selalu identik dengan kegembiraan. Kegembiraan tersebut hadir melalui banyak hal. Cerita fabel anak serta mainan adalah dua hal yang selalu berhasil membuat semangat anak-anak kembali menjadi naik.
Kemampuan anak untuk mengimajinasikan sesuatu memang berbeda. Mereka mempunyai daya khayal yang seolah tidak mengenal batasan. Cerita-cerita dongeng atau cerita fabel anak merupakan salah satu sarana bagi anak-anak untuk semakin mengembangkan daya imajinasinya tersebut.
Mendengar istilah cerita fabel anak pasti tidak begitu asing. Cerita ini memang sangat akrab dengan kalangan anak-anak ataupun mereka yang berprofesi sebagai pendongeng. Ketertarikan anak-anak terhadap cerita fabel anak memang cukup tinggi. Ketika mendengar cerita fabel anak, mereka seolah dibawa ke dunia dongeng yang penuh dengan hal-hal indah dan menarik.
Cerita fabel memang identik dengan anak-anak, itulah sebabnya cerita ini juga sering disebut sebagai cerita fabel anak. Cerita fabel anak ini biasanya diperuntukkan bagi anak usia TK hingga sekolah dasar.
Cerita fabel adalah sebuah cerita yang mengangkat binatang sebagai tokoh utamanya. Cerita seperti ini berubah menjadi sangat menarik bagi anak-anak. Itulah sebabnya, mengapa cerita ini sering juga disebut sebagai cerita fabel anak.  Berikut adalah salah satu contoh cerita fabel anak yang menceritakan binatang paling terkenal di kalangan anak-anak.

Cerita Fabel Anak: Asal Mula Binatang Keledai

Cerita fabel anak tentang keledai pun dimulai. Konon Ada tiga binatang yang ingin berubah menjadi Kuda karena dihasut oleh Ular. Mereka berusaha meniru Kuda hingga akhirnya salah satu berubah menjadi Jerapah. Ketika melihat Jerapah, Kuda berteriak ketakutan dan menyebut kata Raksasa. Akibatnya, dua binatang yang belum berubah berlari menyelamatkan diri dari raksasa yang sebenarnya adalah Jerapah.
Dalam cerita fabel anak, kedua binatang itu diceritakan terus berlari hingga kelelahan. Mereka saling memandang, di mana raksasa tadi? Apakah dia sudah pergi? Seperti apa bentuknya? tanya yang pertama. Kukira kau melihatnya! Teriak yang kedua. Kita sudah meninggalkannya dalam keadaan yang buruk. Kita tidak setia! kata yang pertama sekali lagi.
Ia bergelung di tanah. Kalian sudah melihat betapa indahnya kuda, bukan? Kata ular. Wajar sekali jika Gajah menyukainya. Benar kata Ular. Lebih baik sekarang kita mencari binatang lain yang akan kita jadikan bahan percobaan. Kita akan membentuk badannya sesuai ingatan kita tentang kuda, kata binatang kedua. Mata Ular berbinar. Kedua binatang itu masuk dalam perangkapnya.
Cerita fabel anak tentang keledai ini berlanjut. Jika kedua binatang itu menggunakan binatang lain untuk percobaan, kedua binatang itu sudah berbuat jahat. Di mana kita akan mendapat binatang lain? kata yang kedua.Tenanglah. Aku mengenal seekor binatang yang suka mengerat akar, Si Pengerat Akar. Nanti, dia akan kuajak ke sini, sahabat, kata Ular merayu. Ia bergegas merayap ke tengah hutan untuk mencari Si Pengerat Akar.
Malam semakin pekat. Cerita fabel anak ini berlanjut ketika di belakang binatang yang pertama sudah ada binatang lain yang matanya hampir tertutup karena mengantuk. Ia selalu berseru, Akar.. akar.. di mana ada akar? Ular mendesis, akar itu akan kau dapatkan besok pagi kalau kau tinggal di sini dengan sopan dan tidak berkata apa-apa!
Ular menoleh pada dua binatang tadi, kalian harus melakukan percobaan secepatnya! Dengan segera, kedua binatang tadi mengutak-atik tubuh si Pemakan Akar. Tiba-tiba, kedua binatang tadi sadar mereka sudah melakukan kesalahan. Mereka lupa memberi surai dan ekor pada si Pemakan Akar! Tidak ada satu pun dari kedua binatang itu yang bisa menemukan cara membuat sesuatu yang mirip rambut Peri Matahari. Cerita fabel anak ini mulai terasa menegangkan.

Cerita Fabel Anak: Mengajarkan Nilai-nilai Baik

Cerita fabel anak pada cerita ini pun mulai mengajarkan sesuatu. Diceritakan bahwa Ular berpikir keras. Akhirnya, ia memberi perintah, Pemakan Akar, pergilah ke ladang jagung dan ambillah rambut jagungnya. Nanti, kita akan menyisir rambut jagung itu agar rapi. Nanti, kita juga bisa memperpanjangnya. Rambut jagung ini bisa kita jadikan surai dan ekor yang mirip dengan surai dan ekor Kuda. Pasti hasilnya sempurna. Nanti kau akan kuberi upah berupa dua buah akar. Si Pemakan Akar melambai-lambaikan telinga yang panjang dengan sangat riang. Ia sangat ingin memakan akar-akar yang dijanjikan Ular.
Cerita fabel anak bertambah semakin menegangkan ketika ternyata ladang jagung tersebut dijaga ketat oleh Pasukan Semut. Tidak ada seekor binatang pun yang bisa mencuri jagung dari sana. Oleh karena itu, Si Pemakan Akar menunggu hingga malam semakin larut. Beberapa pasukan Semut mulai mengantuk. Mereka lengah. Begitu tiba saat yang tepat, Si Pemakan Akar menerobos masuk dan menarik salah satu pohon jagung dengan giginya.
Ketegangan pada cerita fabel anak ini pun terjadi. Sayang, karena ia terlalu berisik. Akibatnya, Pasukan Semut terjaga. Mereka berteriak, ada pencuri jagung! Ada pencuri jagung! Si Pemakan Akar berlari secepat kilat. Dalam hati, ia sadar bahwa ia salah. Akan tetapi, janji Ular akan memberinya dua buah akar membuatnya rela melakukan apa saja.
Pagi mengganti malam. Matahari sudah tinggi. Di mana-mana, terdengar bunyi binatang yang mencari makan. Tak jauh dari tempat Ular dan kawan-kawan, terdengar langkah Gajah. Rupanya, Pasukan Semut sudah memberitahu Gajah bahwa semalam ada pencuri jagung. Gajah sedang menyelidiki setiap binatang. Celaka, Gajah datang ke sini! Kita bisa ketahuan, keluh Ular. Di belakang Ular, terdengar bunyi gemerisik. Siapa itu? Tanya Ular. Aku! Teriak si Pemakan Akar sekeras-kerasnya.
Ia ingin menyatakan perasaan gembira karena berhasil mendapatkan rambut jagung. Ia yakin kalau Ular akan memberinya upah akar-akar yang gemuk. Mendengar teriakan si Pemakan Akar, Gajah langsung berteriak.
Emosi pada cerita fabel anak ini berubah. Hei! Apa yang terjadi di sebelah sana?! Semak belukar itu dikuak oleh Gajah dengan gadingnya. Kepalanya yang besar itu kelihatan. Ia terkejut ketika melihat makhluk aneh di depannya: Si Pemakan Akar. Hei, siapa kamu? Gajah mengernyitkan kening. Gajah, kata binatang pertama sambil melangkah ke depan.
Kau selalu mengatakan bahwa Kuda adalah binatang terbaik. Sekarang, kami berusaha menirunya. Lihatlah si Pemakan Akar. Dia mirip dengan Kuda, bukan? Setelah dia berubah, kami akan berubah juga. Saat itu juga, wajah Gajah memerah. Ia sangat marah. Matanya merah seperti menyemburkan api. Ia melangkah ke depan.
Mengapa kalian mengubah bentuknya menjadi jelek? Agar dia menjadi tiruan Kuda yang paling buruk. Setelah itu, kami akan membentuk tubuh kami lebih baik daripada dia, Binatang pertama menundukkan kepala. Gajah membelalakkan mata karena sangat marah. Tidakkah terpikir oleh kalian bahwa kalian sudah menghancurkan bentuk si Pemakan Akar?
Cerita fabel anak ini pun berakhir dengan kekecewaan Gajah yang mendalam. Ia kecewa karena perubahan yang terjadi. Setiap cerita fabel anak pada umumnya memiliki nilai moral yang disampaikan. Nilai moral pada cerita fabel anak ini adalah bagaimana manusia diajarkan bagaimana cara bersyukur dan menerima segala pemberian Tuhan.  Secara langsung maupun tidak langsung, anak-anak tersebut akan mendapatkan pelajaran berharga dari cerita fabel anak tersebut.

0 komentar

trima kasih telah berkomentar
salam damai
dari petrus siahaan